| Pakan yang berada dalam automatic feeder |
Perusahaan peternakan unggas akan selalu merahasiakan komposisi pakan yang digunakan untuk pakan unggas, karena pakan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemerliharaan. Pakan masuk dalam salah satu faktor penting perusahaan dalam sistem keberhasilan perusahaan peternakan, yaitu feeding, breeding dan mangement. Tujuan pemberian pakan adalah memberikan pakan sesuai kebutuhan ayam dan kesanggupan ayam untuk pertumbuhan dan produksi telur yang maksimal.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali, yaitu 75% dari jumlah konsumsi harian dilakukan pagi hari pukul 10.00 dengan cara memasukkan pakan kedalam hoper, dan 25% diberikan pukul 15.30 sebelum karyawan pulang. Untuk pemutaran pakan dalam satu hari dilakukan sebanyak 3 kali. Pukul 05.15-05.21 pagi selama 6 menit, pukul 10.00-10.06 pagi selama 6 menit, pukul 14.15-14.21 sore selama 6 menit. Pemutaran pakan menggunakan automatic feeder through.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali, yaitu 75% dari jumlah konsumsi harian dilakukan pagi hari pukul 10.00 dengan cara memasukkan pakan kedalam hoper, dan 25% diberikan pukul 15.30 sebelum karyawan pulang. Untuk pemutaran pakan dalam satu hari dilakukan sebanyak 3 kali. Pukul 05.15-05.21 pagi selama 6 menit, pukul 10.00-10.06 pagi selama 6 menit, pukul 14.15-14.21 sore selama 6 menit. Pemutaran pakan menggunakan automatic feeder through.
Pakan dari hoper akan terbawa rantai yang ada pada automatic feeder through hingga terdistribusi merata. Automatic feeder through merupakan jenis tempat pakan memanjang yang dilengkapi rantai didalamnya dan bak penampung pakan (hoper). Pada kenyataannya, hoper diberi tambahan kapasitas dengan papan kayu yang dibentuk menyerupai hoper. Jumlah Automatic feeder through ada dua pada sisi kanan dan kiri. Pada bagian tengah atau area alas litter terdapat feeder tube. Feeder tube digunakan untuk pemberian pakan untuk kasus tertentu, seperti pemberian batu grit.
Pemberian pakan periode produksi menggunakan standar point feed 10,5. Point feed 10,5 berarti setiap 100 ekor ayam mendapat 10,5 kg untuk pertumbuhan dan produksi telur dalam 1 hari. Akan tetapi, bila nafsu makan ayam berkurang biasanya pemakaian pakan tidak sesuai point feed sehingga diberikan jumlah sesuai kemampuan ayam makan. Point feed dapat diartikan jumlah pakan yang diberikan untuk menghasilkan 1 butir telur.
Penggunaan point feed didasarkan masa pemeliharaan atau berdasar umur pemeliharaan, karena umur merupakan salah satu faktor pengaruh konsumsi pakan unggas. Selain umur, konsumsi pakan juga dipengaruhi berat badan, temperatur kandang, periode pencahayaan, tersedianya air, kompetisi dalam kandang, potong paruh waktu periode brooding, status kesehatan ayam. Berat badan yang lebih tinggi akan mengkonsumsi pakan lebih banyak dari berat badan yang rendah. Temperatur yang panas membuat ayam lebih banyak mengkonsumsi air. Hal ini juga ditambahkan oleh Tierzucth (2011) bahwa tekstur pakan, kondisi bulu dan kandungan energi dalam juga mempengaruhi konsumsi pakan.
Pakan yang diberikan saat masa laying adalah jenis 534 H dengan bentuk crumble. Untuk jenis pakan masa brooding 531 H dan masa growing 532 H. Pemberian pakan jantan dan betina tidak dibedakan. Semua jenis pakan yang digunakan memililki komposisi bahan dan kandungan nutrien, tetapi pihak perusahaan tidak memberikan informasi tersebut karena sebuah rahasia perusahaan.
Pemberian pakan periode produksi menggunakan standar point feed 10,5. Point feed 10,5 berarti setiap 100 ekor ayam mendapat 10,5 kg untuk pertumbuhan dan produksi telur dalam 1 hari. Akan tetapi, bila nafsu makan ayam berkurang biasanya pemakaian pakan tidak sesuai point feed sehingga diberikan jumlah sesuai kemampuan ayam makan. Point feed dapat diartikan jumlah pakan yang diberikan untuk menghasilkan 1 butir telur.
Penggunaan point feed didasarkan masa pemeliharaan atau berdasar umur pemeliharaan, karena umur merupakan salah satu faktor pengaruh konsumsi pakan unggas. Selain umur, konsumsi pakan juga dipengaruhi berat badan, temperatur kandang, periode pencahayaan, tersedianya air, kompetisi dalam kandang, potong paruh waktu periode brooding, status kesehatan ayam. Berat badan yang lebih tinggi akan mengkonsumsi pakan lebih banyak dari berat badan yang rendah. Temperatur yang panas membuat ayam lebih banyak mengkonsumsi air. Hal ini juga ditambahkan oleh Tierzucth (2011) bahwa tekstur pakan, kondisi bulu dan kandungan energi dalam juga mempengaruhi konsumsi pakan.
Pakan yang diberikan saat masa laying adalah jenis 534 H dengan bentuk crumble. Untuk jenis pakan masa brooding 531 H dan masa growing 532 H. Pemberian pakan jantan dan betina tidak dibedakan. Semua jenis pakan yang digunakan memililki komposisi bahan dan kandungan nutrien, tetapi pihak perusahaan tidak memberikan informasi tersebut karena sebuah rahasia perusahaan.
Bahan baku pakan yang dipakai harus bebas dari residu dan zat kimia yang membahayakan seperti pestisida dan bahan lain yang tidak diinginkan ( SNI 01-3929-2006). Menurut Kovler, (2009) ada beberapa kunci dalam strategi pengelolaan pakan selain memperhatikan komposisi bahan dan kandungan nutrisi adalah pengelolaan yang baik. Kunci tersebut pada pemerataan konsumsi pakan, dimana ayam mudah mendapatkan pakan, mengontrol ukuran dan kelunakan pakan, tidak terlalu besar dan tidak keras
Pemberian pakan harus sesuai kebutuhan untuk menhindari ayam banyak perlemakan atau terlalu gemuk. Berdasarkan SNI-7700.5-2011 pakan ayam bibit induk petelur memiliki kandungan kadar air 13,0%, protein kasar 16,0%, lemak kasar 3,0%, serat kasar 6,5 %, Abu 14,0%, kalsium (Ca) 2,7- 4,0%, fosfor 0,60-0,9%. Jadi, pakan yang diberikan setidaknya tidak terlalu jauh dari SNI 7700.5-2011.
Jika terjadi pemberian yang lebih juga terjadi kenaikan konsumsi pakan yang tiba tiba juga berakibat over stimulasi yang menyebabkan prolapsus. Prolapsus adalah keluarnya organ saluran reproduksi dari tubuh ayam. Pemberian pakan juga tidak boleh diganti, tetap pakan 534 H, karena dapat mengganggu performa ayam. Menurut Pramudyati dan Agung Prabowo (2009) bahwa mengganti sebagian pakan layer dengan pakan yang akan menurunkan kemampuan ayam dalam memproduksi telur.
Referensi :
Kovler, de Villa. 2009. Management Guide Parent Stock. Hendrix Genetic Company. Netherland.
SNI 7700.5-2011. Pakan Parent Stock. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Pramudyati, Y. Suci dan Agung Prabowo. 2009. Petunjuk Teknis Beternak Ayam Ras Petelur. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Sumatera Selatan
Tierzucth, L. 2011. Management Guide Layer. LOHMANN TIERZUCHT GmbH. Germany.