Tahapan Transfer Embrio Pada Sapi

Gambar sapi potong
Penerapan teknologi pada bidang peternakan adalah upaya untuk meningkatkan manajemen peternakan, terutma pada reproduksi ternak sapi. Teknologi yang digunakan bberupa inseminasi buatan dan transfer embrio. Transfer Embrio merupakan suatu sistem perkawinan yang memproduksi banyak embrio dalam satu siklus berahi dan ditransfer ke resipien sampai lahir.

Sapi yang digunakan pada pelaksanaan Transfer Embrio tidak perlu dari bangsa yang unggul, tetapi harus mempunyai siklus estrus yang teratur. Untuk itu, seleksi resipien perlu dilakukan sebelum program Transfer Embrio dimulai. Seleksi terhadap resipien mencakup siklus berahi sapi. Sapi yang mempunyai siklus berahi terlalu panjang atau tidak teratur tidak dapat dipakai sebagai resipien.

Menitipkan embrio yang dihasilkan kepada ternak/indukan lain istilah lainnya hanya meminjam rahim dari ternak resipien adalah prinsip transfer embrio. Transfer Embrio diawali dengan penyuntikan hormon reproduksi seperti FSH ke ternak donor dengan tujuan untuk merangsang dan memperbanyak ovulasi (pelepasan sel telur) sehinga didapat embrio dengan jumlah yang lebih dari 1 (satu).

Penyuntikan hormon FSH ini dilakukan selama 4 (empat) hari berturut-turut pagi dan sore hari dengan dosis menurun dan interval penyuntikan setiap harinya 8 – 12 jam dan pada hari ke 3 ditambahkan dengan penyuntikan PGF2α dengan tujuan supaya donor tersebut berahi. Inseminasi Buatan dilakukan pada hari kedua-ketiga (48-72 jam) setelah pemberian PGF2α atau setelah donor tersebut menunjukkan tanda-tanda berahi dan IB dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan interval inseminasi setiap 12 jam.

Menurut Dirjen Peternakan 2012 bahwa Flushing (Panen Embrio) dilakukan pada hari ke 7 setelah berahi atau setelah IB pertama kali. Tahapan dalam pelaksanaan flushing adalah dengan menyiapkan media flushing seperti Lactated Ringer/PBS, Calf serum 1%, Antibiotik dan anastesia lokal (Lidocain HCl 2%) sedangkan peralatan yang digunakan cervix expander, folley catheter, selang silicon, stilet, botol penampungan media, jarum suntik, spuit, gunting, glove dan gun spul.

Ternak yang akan di flushing ditempatkan di kandang jepit, kemudian dilanjutkan dengan melakukan anastesi epidural lalu melakukan pembersihan rektum dan memasukan expander dengan tujuan untuk membuka celah cervix diteruskan dengan memasukan folley catheter diarah bisa ke arah kanan atau kiri terlebih dahulu dan memberikan balon udara dengan tujuan untuk membendung cairan flushing yang terdapat embrio langkah berikutnya adalah melakukan pemanenan embrio dengan cara pembilasan lactat ringer dan dilakukan berulang ulang sampai habis.

Setelah pelaksanaan flushing dilakukan penyuntikan PGF2α yang bertujuan untuk meluruhkan CL yang ada sehingga mempercepat timbulnya berahi lagi dan uterus dibilas dengan iodine povidon bertujuan untuk mencegah infeksi dan membersihkan saluran reproduksinya.