![]() |
| Gambar sapi ongole |
Sapi merupakan ternak ruminansia (mempunyai empat bagian perut) yang banyak digemborkan pemerintah dalam implementasi swasembada daging sapi. Salah satu implementasi tersebut dengan peningkatan reproduksi sapi. Dalam manajemen reproduksi sapi perlu adanya deteksi berahi. Berahi adalah tanda sapi siap untuk dikawini.
Tanda-tanda sapi berahi antara lain vulva nampak lebih merah dari biasanya, bibir vulva nampak agak bengkak dan hangat, sapi nampak gelisah, ekornya seringkali diangkat bila sapi ada di padang rumput sapi yang sedang berahi tidak suka merumput. Kunci untuk menentukan yang mana diantara sapi-sapi yang saling menaiki tersebut berahi adalah sapi betina yang tetap tinggal diam saja apabila dinaiki dan apabila di dalam kandang nafsu makannya jelas berkurang. Siklus berahi pada sapi berlangsung selama 21 hari. Rata-rata berahi berlangsung selama 18 jam dan ovulasi dimulai 11 jam kemudian.
Pengamatan estrus merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen reproduksi sapi perah. Kegagalan dalam deteksi estrus dapat menyebabkan kegagalan kebuntingan. Problem utama deteksi estrus umumnya dijumpai sapi-sapi yang subestrus atau silent heat, karena tidak semua peternak mampu mendeteksinya, untuk itu diperlukan metode untuk mendeteksi berahi
Deteksi berahi paling sedikit dilaksanakan dua kali dalam satu hari, pagi hari dan sore/malam hari. Berahi pada ternak di sore hari hingga pagi hari mencapai 60%, sedangkan pada pagi hari sampai sore hari mencapai 40%. Berahi umumnya dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku ternak dan keadaan vulva.
Deteksi berahi paling sedikit dilaksanakan dua kali dalam satu hari, pagi hari dan sore/malam hari. Berahi pada ternak di sore hari hingga pagi hari mencapai 60%, sedangkan pada pagi hari sampai sore hari mencapai 40%. Berahi umumnya dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku ternak dan keadaan vulva.
